Hadiah Kelulusan
Malam ini merupakan hari piket Raga, sehingga lelaki itu meninggalkan café melewati jam biasanya. Selepas berpamitan dengan beberapa rekannya, Raga keluar untuk segera pergi ke markas. Dirinya rutin ke markas selepas bekerja karena Arsen tidak mencarinya karena sudah dalam lelapnya, juga Ligar yang memang tidak melarangnya.
Saat Raga berjalan menuju motornya, dirinya dikejutkan dengan seseorang yang bertengger di motornya. Orang tersebut nampak duduk dengan memeriksa motornya. Dengan langkah pasti, Raga berjalan cepat membekuk lengannya melingkari leher orang itu.
“Ra-ga... Ini aku, Ligar.” Sontak Raga merenggangkan tangannya dan memeriksa wajak orang tersebut dalam remang. Benar, itu adalah Ligar. Lelaki itu terbatuk selepas cengkeraman Raga lepas. Raga tenaganya tidak main-main.
“Sorry,” maaf Raga. “Lagian ngapain nangkring di motor orang gitu,” lanjutnya.
“Aku jemput kamu. Sini kunci kamu, aku yang bonceng,” tuturnya seraya bersiap mengendarai motor.
“Dih, naik motor situ sendiri,” sewot Raga.
“Aku gak bawa motor ataupun mobilku,” balasnya lalu menyahut kunci motor pada genggaman Raga.
Pada akhirnya, mau tidak mau Raga menuruti Ligar. Lelaki itu mengambil posisi di bangku belakang. Raga berpegang pada pundak Ligar ketika lelaki itu mulai menyalakan motornya. Merasakan itu, tangan Ligar membawa turun tangan Raga untuk melingkar di pinggangnya.
“Kalo aku bonceng tuh tangannya di sini,” tuturnya sebelum melajukan motor meninggalkan area café tempat Raga bekerja.
Setiap Raga hendak melepaskan atau memindahkan pegangannya, Ligar akan otomatis menaikkan kecepatan motor melaju. Raga berakhir membiarkan tangannya memeluk Ligar. Jujur saja, dirinya biasa menaiki motor dengan kecepatan tinggi, tetapi saat dirinya menjadi penumpang, rasanya berbeda dengan saat dirinya mengendarai. Dirinya seakan bisa terbang begitu saja dengan kecepatan motor yang tinggi.
Ligar membawa motor Raga masuk dalam garisnya. Sebelum Raga beranjak turun, Ligar menitah tangan kanan Raga merogoh saku di jaket yang dia kenakan. Ligar mencekal tangan Raga ketika akan mengeluarkan tangannya karena panik akan barang yang ada dalam saku Ligar.
“Itu hadiah buat kamu, ambil aja,” terangnya.
Raga mengambil barang di saku Ligar dengan was-was. Dirinya lantas turun dan membuka isi hadiah yang diberikan Ligar. Dari bentuk kotak yang muncul, sejujurnya dia telah curiga, namun dirinya mencoba berpikiran ke arah lain. Akan tetapi setelah dirinya buka, apa yang dia curigai itulah jawabannya.
“Raga, aku mau kita menikah di kemudian hari nanti. Aku tau kita belum lama mengenal bahkan berhubungan dekat seperti ini, tapi aku sadar kalau kamu di sini bukan cuma bisa mengambil hati Arsen, tapi juga aku. Kalau kamu tanya apa alasannya, aku gak tau. Aku gak tau perasaanku itu tumbuh disaat apa, itu semakin tumbuh begitu saja seiring berjalannya waktu,” tutur Ligar seraya meraih sebelah tangan Raga untuk digenggamnya.
“Aku gak meminta jawaban kamu saat ini juga. Aku nggak memberikan batas buat kamu jawab ajakan aku. Kalau kamu setuju sama ajakan aku, kamu bisa pakai cincinnya di jari kamu. Aku bakal simpan salah satunya.” Ligar mengambil salah satu cincin yang memiliki lingkar lebih besar.
Raga menutup kotak tersebut dan menyimpannya dalam saku jaketnya. Dirinya kehilangan kata-katanya untuk menanggapi Ligar. Lelaki itu benar-benar menghadirkan kejutan dalam hidupnya.
“Raga.” Surainya yang dibelai halus pun mendongak mendengar panggilan itu. “Makasih.” Raga mengangguk. “I love you.” Keningnya dikecup manis oleh Ligar.
Raga yang terkekeh setelah mendapat kecupan pun menghadirkan bingung bagi Ligar. “I love you kok di jidat.” Ligar mengerutkan keningnya mendengar penuturan Raga.
Perlu beberapa detik hingga akhirnya Ligar menangkap maksud Raga. Ligar menahan tubuh Raga yang berusaha melangkah mundur ketika dirinya mulai menundukkan kepalanya. Tangan kiri Ligar mengangkat dagu Raga dan mempertemukan belah bibir keduanya untuk beradu. Ligar memagut bibir kecil Raga menunjukkan rasa cinta yang dia miliki untuk lelaki yang lebih muda darinya itu. Ligar jatuhlan kecupan manis di bibir Raga untuk mengakhiri ciumannya. “I love you, Jiwa Raga Satria.“
