Bermuara
Langkah yang penuh keyakinan tengah menapaki jalan menuju altar. Setelan putih yang dikenakannya tampak bersinar dalam teduhnya pagi. Senyuman hangat Elgar menyapa seluruh tamu undangan yang hadir. Rasanya masih seperti mimpi saat dirinya telah berdiri di altar. Sebuah kepuasan hadir dalam dirinya saat dapat melihat jelas sorot mata dan senyum bahagia dari para tamu undangan yang hadir. Dekorasi pernikahan yang sederhana membuat kebahagiaan itu dapat terlihat jelas di matanya.
Sorak sorai mulai terdengar saat Ruby mulai terlihat menapaki jalan menuju altar. Senyum cerah yang terpatri di wajah Ruby mengundang rasa haru. Manik Ruby menyapa para tamu undangan yang turut tersenyum padanya. Sungguh, ini adalah euforia yang baru Ruby rasakan, pun dengan sang Ayah yang menggandeng tangannya dengan penuh sukacita bahkan menitikkan air matanya.
Ruby sudah menitikkan air matanya saat sang Ayah menyapa Elgar dan memberikan pelukan pada lelaki itu. Yang terjadi hari ini sangatlah asing di pernikahan dirinya sebelumnya. Dirinya perlu membuang pikiran-pikiran dirinya tentang pernikahannya yang telah berlalu itu.
Langkah kecil yang menghampiri Elgar dan Ruby dengan menaburkan bunga di sepanjang jalan. Tawanya renyah terdengar di telinga semua orang. Sudah berulang kali Ruby mendongakkan kepalanya agar air matanya tak lagi turun untuk menyambut Koa dihadapannya.
“Koa super happy!” Tangan kecilnya menyatukan tangan kedua orangtuanya.
Si kecil yang tak kalah bahagia dari pengantin itu enggan beralih bersama orang tua Elgar dan Ruby. Anak itu memilih berdiri di depan pemimpin upacara, diantara Elgar dan Ruby. Senyumnya terlihat puas saat Elgar dan Ruby mempersilahkan dirinya tetap berada diantara keduanya. Koa berada diantara genggaman tangan kedua orang tuanya.
“From the moment I first met you, I knew that my life would never be the same again. You have shown me a love that is deep, unwavering, and full of warmth. However, the greatest gift you have given me is the opportunity to not only love you, but also love Koa.
Marrying you today is not only a commitment to be your husband, but also to be part of the wonderful family we are building together. I promise to love, honor, and cherish you-not only as my husband, but also as a partner in life, a lover, a friend, a safe place, and Father of someone so special.
I promise to stand beside you in every joy and challenge. To support you, laugh with you, dream with you, and grow with you. I promise to love Koa like my own, to protect, guide, and encourage him in every step of life.
Today, I'm not just saying 'I do' to you—I'm saying 'I do' to our family, to our journey, and to a lifetime of love. I am the luckiest man in the world, and I will spend forever and ever proving it to you.” Elgar ucapkan janjinya kalimat demi kalimat dengan menahan air matanya.
Genggaman tangan Ruby semakin erat pada Elgar. Janji panjang yang diucapkan itu menghadirkan perasaan yang campur aduk dalam dirinya. Koa yang mengetahui kedua orang tuanya menitikkan air matanya itu lantas mencium genggaman tangan kedua orangtuanya, menghadirkan senyum indah mereka untuknya.
“From the moment you walked into my life, I knew you were special. But what truly made me fall in love with you was the way you embraced not just me, but also Koa. You didn’t just love me—you loved us.
Seeing you step into the role of a father figure with kindness, patience, and an open heart has been one of the greatest joys of my life. You didn’t have to love Koa the way you do, but you chose to, every single day. And for that, I am endlessly grateful.
Today, as I vow to be your husband, I also vow to always cherish the love and bond you share with Koa. I promise to support you as a husband and as the extraordinary stepfather you are. I promise to build a home filled with love, laughter, and unwavering support for our family.
I am so blessed to be standing here with you, knowing that I am not just gaining a husband, but a partner in life. I love you today, tomorrow, and always.” Sorot mata keduanya tak lepas sedetikpun sepanjang janji tersebut diucap.
Tangan kecil Koa menepuk punggung tangan Elgar untuk mendapatkan perhatian. Sebuah kotak cincin yang dibawanya itu diberikan pada Elgar. Saat keduanya bertukar cincin, Koa bersorak bahagia diantara mereka.
Riuh mulai terdengar setelah pemimpin upacara mengesahkan pernikahan keduanya. Akhirnya, keduanya resmi menjadi pasangan yang sah. Terdengar dari berbagai sisi tengah mendorong mereka untuk berciuman. Elgar dan Ruby bersamaan menengok Koa yang juga tengah mendongak memandang keduanya.
“Koa will close eyes.” Dua telapak tangan kecil Koa menutupi mata indahnya yang berbinar.
Elgar dan Ruby mencondongkan tubuh mereka untuk mempertemukan belah bibir mereka. Sorak sorai semakin nyaring saat keduanya mulai saling mengadu bibir. Koa sedikit mengintip saat Elgar dan Ruby mengakhiri ciuman keduanya dengan sebuah kecupan singkat.
Badan kecil Koa diangkat oleh Elgar dalam gendongannya. Anak itu spontan membuka telapak tangan yang menutupi matanya. Raut terkejutnya tidak dapat dihindari saat Elgar dan Ruby bersamaan mencium pipinya. Pipi gembilnya itu seketika memerah padam.