Before Our Engagement

Ruby dan Elgar menyegerakan pergi untuk fitting tuxedo saat Koa terlelap dalam tidur siangnya. Keduanya datang lebih awal dari yang dijadwalkan, sehingga perlu menunggu setelan mereka disiapkan. Hanya sekedar fitting setelan untuk pertunangan mereka, namun keduanya merasa berdebar.

Keduanya sungguh dibuat kagum dengan dua orangtua mereka. Dalam waktu yang singkat mereka bukan hanya menyiapkan setelan untuk pertunangan keduanya, namun juga untuk pernikahan keduanya mendatang. Untuk pernikahan masih berupa rancangan yang memiliki beberapa pilihan.

“Kak, buat wedding nya next time aja, ya. Kita belum tahu gimana konsepnya dan itu masih jauh,” saran Elgar.

“Loh kata Papi kamu dalam waktu dekat loh, that is why desainnya udah ada,” sahut sang desainer yang merupakan kenalan Tian.

Yang bersangkutan belum terpikirkan, tetapi langkah Tian Sadjiwo sudah sejauh itu. Elgar dan Ruby hanya bisa menghela napas mendengar penuturan itu. Entah kejutan seperti apa lagi yang akan diberikan oleh kedua orang tua mereka.

I will contact you later buat wedding nya, Ci. Hari ini kita ke sini buat fitting yang engagement aja,” tawar Ruby.

Okay, that is fine. Aku happy banget waktu Kak Tian ke sini dan bilang kalau yang jadi pasangan Elgar itu kamu. You got a better man.” Wanita itu mengucap kalimat terakhirnya dengan berbisik pada Ruby.

Thank you.


Sedari keluar dari butik tersebut, Elgar nampak serius. Selama proses fitting juga Elgar banyak melamun. Ruby mencoba mengingat yang mereka lakukan separuh hari ini barangkali dirinya melakukan kesalahan pada Elgar yang tak dirinya sadari.

Is there something bothering you? Kamu banyak diam dari tadi.” Ruby segera mengajukan pertanyaannya sebelum Elgar melajukan mobilnya.

It happened so suddenly. Antara lagi mimpi dan nyata.” Ruby justru terkekeh setelah mendengar jawaban Elgar. “Kak.. Before our engagement, please let me know your feeling. Do you love me?

Keduanya menjadi bertatap serius setelah pertanyaan itu muncul. Elgar sangat berharap bahwa Ruby akan menjawab itu. Dirinya perlu tahu apakah hubungan yang dijalin oleh keduanya berdasar atas perasaan yang sama atau sekedar menuruti permintaan Tian.

I do love you.

Elgar tak berkutik dari posisinya, matanya masih tak berkedip dengan pandangan yang menyorot Ruby. Oh, degupan jantung Elgar telah berpacu lebih cepat dari beberapa saat lalu.

“Kakak serius?”

Ruby melepaskan seatbelt dan mendekat ke arah Elgar. Kedua bola mata Elgar membulat saat Ruby mempertemukan kedua belah bibir mereka. Elgar yang tak memberikan respon membuat Ruby memundurkan dirinya, namun dengan cekatan Elgar menahannya. Kedua belah bibir mereka kembali bertemu. Sejenak, mobil Elgar dipenuhi oleh suara basah dari ciuman keduanya.

“Kak, aku gak bisa nyetir deh ini,” tutur Elgar selepas ciuman keduanya. “Jiwa aku belum sepenuhnya balik sehabis Kakak cium.”

Ruby tak memberi tanggapan atas banyaknya celotehan Elgar. Dirinya juga sama halnya dengan Elgar, mengumpulkan kewarasannya kembali setelah menuruti pikiran gilanya untuk mencium Elgar. Batinnya berulang kali menyalahkan Yeager yang hendak meneriaki dirinya dan Elgar untuk berciuman di pertunangan mereka. Ucapan Yeager itu memang membuatnya kepikiran semalaman.

“Kak, coba tampar pipiku. Aku mau memastikan yang cium aku tadi itu Kakak atau bukan.” Elgar yang meraih tangan Ruby itu alih-alih mendapat tamparan justru mendapatkan kecupan manis dari Ruby. “Kak…”

Go take a drive. Look, Agista already called me!” Ruby menunjukkan gawainya yang tengah berdering.

“Kak, pegang tanganku.” “Please drive safely, Elgar.

Senyuman Elgar merekah saat dirinya rasakan jemari Ruby membelah buku-buku jarinya. Dirinya bubuhkan kecupan pada punggung tangan Ruby setelah tangan keduanya menyatu.